37m yang lalu
Aturan FASB dan Implementasi GENIUS Act Berpotensi Mengarahkan Adopsi Stablecoin di Kalangan Institusi
Proposal terbaru Financial Accounting Standards Board (FASB) dan dorongan Departemen Keuangan AS (U.S. Treasury) untuk menyusun aturan pelaksanaan GENIUS Act dinilai dapat menjadikan kepatuhan sebagai penentu utama stablecoin mana yang akan dipilih institusi. CEO Aquanow, Phil Sham, mengatakan standar baru terkait akuntansi dan regulasi berpotensi menyaring penerbit stablecoin dan mengubah peta persaingan di pasar institusional.
Pada 18 Agustus, FASB merilis proposal yang memperjelas kapan aset digital tertentu dapat diperlakukan sebagai setara kas (cash equivalents) dalam aturan akuntansi yang sudah berlaku. Kriteria yang diusulkan menitikberatkan pada stabilitas harga, cadangan yang likuid, serta adanya hak kontraktual yang memungkinkan pemegang menukar (redeem) langsung ke penerbit menjadi uang tunai kapan pun diminta. FASB menegaskan proposal ini bukan berarti semua stablecoin otomatis diklasifikasikan sebagai setara kas. Tujuannya mengurangi ketidakpastian akuntansi untuk token yang memenuhi syarat, sehingga lebih mudah dipakai dalam manajemen kas (treasury), pembayaran, dan proses settlement, sekaligus memengaruhi cara perusahaan melaporkan likuiditas di neraca.
Sehari sebelumnya, U.S. Treasury meminta masukan publik terkait aturan untuk mengimplementasikan Section 3 GENIUS Act. Jika digabung, arah kebijakan akuntansi dan regulasi ini menaikkan standar penebusan, cadangan, dan kontrol risiko, serta berpotensi mempersempit jumlah penerbit yang patuh di AS.
Dalam kerangka Treasury, penerbit payment stablecoin wajib memiliki lisensi federal atau negara bagian yang sesuai untuk beroperasi di AS setelah 18 Januari 2027. Pembatasan lanjutan mulai berlaku 18 Juli 2028: penyedia layanan aset digital dilarang menawarkan payment stablecoin kepada pelanggan AS kecuali stablecoin tersebut diterbitkan oleh penerbit berlisensi. Penerbit asing juga akan menghadapi persyaratan, termasuk kemampuan mematuhi perintah sah otoritas AS.
Bagi bank, fund, dan korporasi, pengakuan akuntansi dapat menghilangkan salah satu hambatan terbesar karena stablecoin yang memenuhi syarat menjadi lebih sederhana untuk diintegrasikan ke operasi keuangan. Meski begitu, Sham mengingatkan langkah ini tidak otomatis mengubah stablecoin menjadi setara deposito bank atau menggantikan uang tunai untuk semua kebutuhan institusional. Walaupun lolos uji setara kas versi FASB, perusahaan tetap harus memenuhi ketentuan modal regulasi, batas risiko internal, persyaratan agunan, dan pembatasan kontraktual. Banyak perjanjian pinjaman maupun fasilitas kredit mendefinisikan "kas" dengan ketentuannya sendiri; penggunaan stablecoin untuk memenuhi covenant likuiditas bisa memerlukan persetujuan pemberi pinjaman.
Sham menyoroti satu nuansa penting: token on-chain yang sama bisa diperlakukan berbeda untuk tujuan akuntansi, tergantung hak hukum pemegangnya. Pembelian langsung dari penerbit dengan hak penebusan yang tertuang dalam kontrak cenderung lebih dekat pada standar setara kas dibanding token yang dimiliki lewat bursa, ketika pemegang sering kali hanya punya klaim terhadap platform, bukan terhadap penerbit. Struktur kustodian yang meneruskan hak penebusan yang dapat ditegakkan kepada pemilik manfaat (beneficial owners), atau trust yang terlindung dari kebangkrutan (bankruptcy-remote), juga bisa menghasilkan penilaian yang berbeda. Seperti dikatakan Sham, "Stablecoin yang sama bisa bersifat fungible di on-chain, tetapi diperlakukan berbeda tergantung hak kontraktual pemegangnya."
Dari sisi praktik, institusi akan menilai kualitas kustodian, eksposur terhadap penerbit, likuiditas pasar sekunder, serta kemampuan melakukan penebusan saat kondisi tertekan. Sham merangkum kekhawatiran utamanya: siapa yang secara hukum berutang dolar, di mana dana itu disimpan, dan seberapa cepat bisa dipulihkan ketika terjadi stress. Klaim cadangan 1:1 saja dinilai tidak cukup; institusi menginginkan kepastian penebusan konsisten pada nilai pari meski likuiditas memburuk. Tata kelola, keamanan siber, kelangsungan bisnis, serta kontrol AML dan sanksi juga akan memengaruhi peluang penerbit memenangkan bisnis institusional.
Kombinasi persyaratan akuntansi dan lisensi yang lebih ketat diperkirakan mendorong aktivitas institusional ke kelompok penerbit yang lebih kecil dan lebih besar, yang memiliki koneksi kuat, sanggup menanggung biaya kepatuhan dan operasional, memiliki likuiditas lebih dalam, serta jaringan perbankan dan distribusi yang mapan. Sham menilai dinamika ini menguntungkan pemain incumbent, meski bukan berarti menutup peluang pendatang baru. Penerbit kecil masih dapat mencari ceruk seperti pembayaran regional, settlement khusus industri, atau pasar yang kurang terlayani, asalkan memiliki kerangka hukum yang kuat, syarat penebusan yang jelas, dan ekosistem yang siap mendukung token mereka. Menurutnya, "Kepatuhan memberi hak untuk bersaing; utilitas dan kesiapan ekosistem yang mendorong penggunaan."
Saat ini, baik proposal FASB maupun aturan pelaksanaan Treasury masih dalam proses penyusunan. Treasury meminta komentar publik dalam 60 hari sejak proposal dipublikasikan di Federal Register. Jika pada akhirnya diadopsi kurang lebih seperti rancangan saat ini, persaingan pasar dapat bergeser dari faktor pasokan, imbal hasil, dan listing bursa menuju fokus pada klaim hukum, akses terhadap cadangan, serta kemampuan penerbit mengembalikan dolar secara andal ketika krisis.
Intinya, kejelasan akuntansi dan perizinan tidak akan menyelesaikan seluruh isu hukum, kredit, maupun operasional. Meski demikian, keduanya dapat mengubah secara signifikan stablecoin mana yang dianggap layak bagi institusi, sekaligus berpotensi memusatkan likuiditas dan penggunaan pada penerbit yang mampu membuktikan hak penebusan yang dapat ditegakkan, cadangan yang kuat, dan kontrol operasional yang tangguh.